A Step to the Highest: System for Saying “Thank You”.

Ketika aku bicara soal keyakinan di sini,

Ya, aku berbicara mengenai kamu, Tuhanmu, Agama. “Keyakinan”.

Bukan. Aku bukannya Atheis yang tidak mengakui adanya Penguasa di atas kita.

Justru, aku rasa aku yang paling membutuhkan keyakinan bahwa ”Tuhan itu ada”.

 

Karena “Tuhan itu ada”, bagiku,

keberadaannya ditentukan oleh bagaimana kita menganggap diri kita “ada”.

Kita adalah bukti eksistensi-Nya.

Makanya, katakan sesuatu. Pikirkan sesuatu. Lakukan sesuatu.

Merasakan bahwa kita “hidup”, sama dengan mengakui bahwa Dia selalu “Ada”.

 

Sistem dalam keyakinanku adalah sebuah permainan. Visual Novel? Kalau kamu tahu.

Hidup yang dijadikan-Nya bukti ini adalah sebuah permainan.

Kita dihadapkan pada pilihan-pilihan. Tidak memilih juga menjadi pilihan.

 

Kita dihadapkan pada rangkaian events yang bisa saja muncul,

Ketika kita memilih, Ketika kita tidak memilih, Ketika kita ada di rute A atau F,

Ketika gauge untuk event tersebut terpenuhi.

 

Ya. Pasti semuanya memiliki ending. Good, Bad, Worst, Best, True Ending.

 

Bagiku hidup buatan Dia, The Life-Writer, benar-benar membuatku berpikir,

“Such a waste if i couldn’t enjoy this life to the fullest,”

Sama saja dengan membeli game mahal yang langka, tapi kamu tidak memainkannya.

 

Yang paling aku suka, sekaligus yang paling aku ingin coba hindari dari sistem ini adalah :

kenyataan bahwa kita tidak bisa sendiri.

Setiap manusia adalah player dalam sebuah setting yang sama.

 

Di saat bersamaan, kita bisa menjadi The Blacksmith, The Adventurer, atau The Witch.

Di saat bersamaan, kita bisa menjadi NPC, Non-player Character.

Di saat bersamaan kita hanya background, invisible dalam hidup orang lain.

 

Dan di saat bersamaan, kita bisa bertemu dengan main player lainnya,

intertwined and unlocked some routes of our life.

 

Aku mengagumi sistem ini. Aku mengagumi pertemuan. Aku menghargai tiap-tiapnya.

Termasuk, pertemuanku dengan player ini. Manusia itu.

 

Keberadaan-Nya sebagai Pencipta dalam sistem ini dan membuatkan rute di mana aku dan manusia itu bersinggungan,

I thank Him. You’re that amazing.

 

I’m glad i chose this route,

and meeting that human in this system.

Iklan

A Step of Justification: Idealists and Their Reality

Aku merupakan penganut,

“Cara yang sudah berhasil dilakukan orang lain sudah bukan cara yang menarik dilakukan lagi,”.

Memang, ketika aku merasa cara itu memang sesuatu yang pantas dicoba olehku sendiri, aku akan mencoba melakukannya.

Atau, ketika cara itu merupakan idealismeku.

“Cara”. Tidak terbatas pada hal fisik, otak, material. Buatku, “cara” yang dimaksud juga dalam relationship.

 

Aku punya idealnya sebuah hubungan. Aku kerap mengimajinasikannya, mengatur alurnya dalam otakku. Menggambar siapa, di mana, dan bagaimana.

Kemudian, aku juga bertemu dengan berbagai “cara” relationship. Di antara manusia lain selain aku.

Beberapa aku mempertanyakan “alasan”, beberapa aku meragukan, sedikit darinya aku memberikan perhatian. Penasaran.

Ada juga, satu relationship ini, yang kupikir hanya ada di cerita dongeng klise, berhasil. Bertahan. Cukup lama. Sampai sekarang. Dengan keduanya merasa “sehat” dalam hubungan mereka.

Aku pikir, aku akan memberikan standing applause di hari pernikahan mereka. Aku akan melakukannya jika itu terjadi.

 

Selanjutnya, aku mengalaminya sendiri. Aku ada di dalam relationship. Aku pikir, ini hubungan yang aku harapkan. Idealisme.

Kupikir tidak perlu diceritakan bagaimana chapter-chapter relationship ini. Kenyataan aku masih ada di relationship ini bisa membantumu untuk merangkumnya.

Now, i would like to say thank you to this human, who provides me with this relationship.

“Cara” idealku telah terpakai. Aku tidak perlu mencari lagi. Tidak perlu mencoba lagi. “Cara” ini sudah ada. Sudah kulakukan. Dan merasakan side-effectnya.

Kalau cara ini “gagal” ataupun berakhir secara sederhana, aku ingin berterima kasih atas after-effect yang akan kualami nantinya. Aku berterima kasih atas kemampuanmu mewujudkan idealisme ini.

Aku tidak mau mencoba “cara” lain. Aku sudah mendapatkannya. Meskipun ternyata itu tidak berlangsung lama, misalnya.

Aku berhenti mengharapkan real relationship lain dalam complex idealism-ku.

A Step Towards the End: Hope and Its Wish.

Harapan.

Kata itu terdengar indah.

Dan menyebalkan.

“Harapan”, ya?

Selama hidup, kupikir setiap manusia pantas mempunyai harapan.

Harapan itu membuktikan bahwa mereka “manusia”.

“Hasrat”, “Keinginan”, “Ketidakmampuan”, “Lemah”.

Harapan dibangun atas hal-hal itu. Harapan berdiri di atas negativitas. Harapan merupakan hasil dari putus asa.

 

Menurutku begitu.

Manusia hanya menyebutnya sebagai harapan agar terdengar manis di telinga.

 

Wish.

Dalam bahasa Indonesia, mungkin wish lebih dekat artinya dengan “doa”.

I wish.

Kata itu untukku seperti menyerahkan harapan pada situasi.

Menggantungkan sesuatu pada keadaan nantinya. Mencari kambing hitam apabila “doa” itu “tidak terkabul”. Kelihatan pasrah namun sesungguhnya arogan. Dalam kondisi menyerah namun menyisakan congkak.

 

Menurutku begitu.

Manusia hanya menyebutnya sebagai “doa” agar terdengar manis di telinga.

 

Tidak. Aku tidak menyuruhmu,” berhenti berharap,” atau “tidak perlu berdoa,”.

 

Ah. Aku mulai berpikir bahwa aku mengatakan idealnya.

Aku tidak sedang menipumu dengan kata-kata barusan.

In fact, aku adalah orang yang paling ingin melakukannya.

 

Aku adalah orang yang punya banyak harapan. I wish every hopes.

Aku berharap aku bisa ke Jepang,

Aku berharap aku bisa belajar banyak bahasa,

Aku berharap aku bisa menjadi orang yang terbuka dengan perasaan.

Aku berharap bisa bertemu dengan Nino dan menanyakan hal-hal yang selama ini terngiang di kepalaku,

Aku berharap bisa tinggal sederhana tanpa paksaan peran dan situasi.

Aku berharap.

 

I wish i could have a lovable character,

I wish i was kind enough to not make people cry,

I wish i wasn’t mean and wasn’t faking at some times,

I wish i was cold-headed in every situation,

I wish i was a Total INTJ,

I wish i could be someone who doesn’t think,

I wish i could say honestly, “Let me stay with you,” to that human.

I, wish.

 

Di saat bersamaan, aku membunuh mereka juga.

Kenapa? Tanyamu.

Jelas. Karena aku manusia.

Berharap mengingatkan bahwa aku lemah dan membunuhnya membuatku merasa kuat.

 

I wish my hopes die.

A Step to the Self: Me. Me. Me Time.

Singkat saja, aku pikir.

Pertanyaan mendasar mengenai “Apa itu me-time?”

Waktu untuk dirimu sendiri? Waktu ketika kamu sendirian?

Waktunya kamu melakukan apapun yang kamu inginkan sendiri?

Apa itu “me-time”?

 

Benar. Aku sudah menyerah mendapatkan “me-time”.

Iya, menyerah. Aku menyerah dengan definisi demikian.

Aku pikir, bisa kah seseorang benar-benar sendirian?

Tidak. Sayangnya kita hidup didampingi banyak manusia figuran lain ataupun menjadi figuran bagi drama hidup orang lain.

 

Lalu, perlukah? “Me-time” itu?

Perlu. Untukku, itu sebuah pilihan. Dan aku memilihnya sebagai kebutuhan.

Aku perlu “me-time”. Aku butuh waktu untuk berpikir bahwa aku “ada”.

 

Kemudian, bagaimana?

Bukankah itu kontradiktif dengan retorika barusan, “Bisa kah seseorang benar-benar sendirian?”

 

Sesempit itu kah arti “me-time”?

 

Untukku, arti “me-time” ada pada tujuan mengapa aku melakukannya.

Iya, “alasan” membuatku tenang. Aku melakukan “me-time” dengan tujuan,

supaya aku “ada”.

 

Meragukan menjadi aktivitas pembukanya, dan berpikir sebagai inti ceritanya.

Penutupnya?

Perasaan lega ketika akhirnya aku tahu aku “ada”.

 

Untukku, serangkai kegiatan itu bisa dilakukan kapan saja.

Di mana saja. Dengan siapa saja. Ketika aku melakukan apa saja.

Memang, akan lebih mudah melakukan aktivitas itu ketika aku sendirian.

Tapi bukan berarti aku tidak bisa melakukannya ketika ada manusia lain.

 

Me-time” itu cuma tentang sudut pandang.

Me-time” dalam definisiku adalah berpikir.

Otakku menjadi pemegang kendali dalam “Me-time”. Setidaknya, aku membiarkannya bebas dalam “Me-time”.

 

“Aku” butuh “Me-time”.

A step to the Id: The Touch. Down.

We are never so vulnerable as when we love,”.

Psikolog yang terkenal dengan kontroversi ketidaksadarannya itu sempat berkomentar soal cinta.

Beberapa orang menyebut sebaris kalimat ini “tidak valid”.

Menganggap pendapat yang hanya terdiri dari beberapa kata ini sebagai non-sense.

“Sigmund Freud itu seorang oedipus complex. Bagaimana bisa dia bicara soal cinta?”

Aku menahan tawa mendengar alasan itu.

Bukankah seseorang yang telah jatuh cinta justru lebih relevan mengungkapkan soal cinta?

Daripada seseorang yang skeptis soal cinta.

Begitu juga aku.

 

Ketika mengenal orientasi “aseksual”, aku salah satu yang merasa demikian.

Untuk apa aktivitas seksual itu?

Apakah perasaan hanya dibangun atas kegiatan biologis?

Banyak film yang tidak lupa menyertakannya.

Ridiculous.

Menurutku sisi biologis itu degrading the feels.

 

Mirip dengan ungkapan Freud dan skeptisisme orang mengenai itu.

Aku belum mencobanya. Setidaknya.

 

Sampai aku bertemu manusia ini.

 

Aku yang sekarang tidak menyangkal sentuhan fisik.

Tetap saja, aku juga tidak menyangkal sentuhan non-fisik.

Now i won’t deny the hugs, the kisses.

But i won’t deny the words, the expressions.

Iya, aku tahu. Aku tidak membenci sentuhan fisik.

 

Manusia itu bahkan seringkali memberikan kenyamanan fisik.

Manusia itu juga tanpa sadar melontarkan rangkaian non-fisik yang membuatku nyaman juga.

 

Dan aku benar-benar yakin sekarang.

Berapa kali pun manusia itu memberikan sentuhan fisik,

apa yang membuatku tenang adalah “alasan”.

Apa yang membuatku nyaman adalah “event dan timing”.

Bukan sentuhan fisik.

Secara biologis, aku cukup kesulitan mengalahkan atau mengendalikan reaksinya.

Tapi aku masih bisa berpikir jernih, sebenarnya.

 

Berbeda dengan sentuhan fisik yang disertai “alasan”, “event”, dan “timing”.

Otakku seakan mengangguk, mempersilahkan perasaan terlelap dalam kenyamanan.

Ia beristirahat. Tidak berpikir. Menyerahkan kendali padaku sepenuhnya.

 

Entah, apakah ini yang disebut asexual biromantic?

Mungkin iya. Mungkin bukan.

 

Saat ini, aku bisa bilang demikian.

One Step as Start: The Brain, Me, and The Human.

Setiap manusia pasti pernah merasa kebingungan.
Justru dengan kebingungan itu, mereka punya kesempatan untuk berpikir.
Descartes pernah menyatakan bahwa,

“Berpikir adalah cara kita, manusia, untuk tetap ada di dunia yang aku yakin kita semua meragukannya,”.

Benar, menurutku, pilihan untuk tetap berpikir membuatku “hidup”.Maka dari itu, aku memilih untuk memikirkan setiap inch dari langkah kakiku.

Begitu juga, ketika aku dalam kondisi, yang mungkin menurut norma bilang, jatuh cinta.
Aku sama sekali belum memahami apa pengertian jatuh cinta.
Bagaimana kamu bisa membedakan mana yang “cinta” dan bukan?
Dalam pemikiranku, perasaan ini masih belum terdefinisi.
Iya, aku beberapa kali telah menyatakan,
“Aku suka,”.
Setidaknya, aku bisa membedakan mana yang “aku suka”, “aku benci”, dan “I feel nothing”.
Iya, kali ini aku bisa bilang, “Aku suka,”.

Selanjutnya, apa yang dilakukan?
Aku pikir, seharusnya, aku tidak melakukan apa-apa.
Bukan, bukan seharusnya.
“Lebih mudah jika aku tidak melakukan apa-apa,”.
Ketika aku menyukai sesuatu, aku juga mulai belajar untuk tidak melakukan apa-apa.
Aku suka Jepang, dan di saat bersamaan aku belajar untuk “sekadar meyukai Jepang”.
Aku tidak ingin ada yang namanya “keinginan”, “hasrat”, “dorongan”.
Atau apa yang disebut Freudian sebagai “id”.
Ya, aku terbiasa melakukannya.
Aku terbiasa menyukai sesuatu, dan membuat kedudukannya zero.
Karena merepotkan.
Merepotkan mengendalikan hasrat,
Merepotkan mendapatkannya,
Merepotkan jika aku menginginkannya lagi,
Merepotkan jika aku tidak mendapatkannya,
Merepotkan jika aku harus kehilangan “sesuatu” itu.

Dalam kasus ini, hal yang berbeda adalah : dia manusia.
Dia menyatakan keinginannya, hasrat, kesukaan, hal yang dia benci, apapun yang terpikirkan untuk diceritakan.
Dia sejenis denganku. Dia berbeda denganku. Dia sama denganku.
Semua kontradiksi, semua indecisiveness, semua hal yang doubting, ada padanya. Ada padaku. Ada pada kita.
Begitu juga dengan happiness, sad, trust, mistrust, bahkan posisi zero ada padanya. Ada padaku. Ada pada kita.

Aku kasihan pada Otakku.
Menurutku, dia the wise man, di sini. Selalu.
Dia yang membuatku merasa bersalah, membangkitkannya lagi, mencari jalan tengah, menyampaikannya padaku dan pada manusia itu tentang kita, situasi, dan choices.
Aku tahu, dia lelah harus menengahi kebutuhanku mengenai “feelings” dan kebutuhanku menjadi orang yang dingin, yang sepenuhnya menggunakan “thinking”.

Maaf, dan terima kasih.
Satu-satunya cara untuk membantu otakku adalah dengan membiarkan aku dan manusia ini bergerak tanpa perhitungan.
Setidaknya, otakku bisa beristirahat. Dia tidak perlu khawatir pada situasi. Dia tidak perlu khawatir apakah perasaanku mampu menghadapinya atau tidak.

Tenanglah, “aku” kuat.
Kalau tidak, “aku” sudah di jalanan sekarang.

Otak, ayo kita berpikir bersama-sama, memecahkannya bersama. Ya, manusia itu juga ikut terlibat dalam diskusi kita.
Kita sama-sama tahu apa yang perlu dipertimbangkan dan apa saja yang dibutuhkan, apa yang kita inginkan.
Aku menempa perasaanku juga.
Setidaknya, aku mengakui bahwa aku juga manusia sama sepertinya.
Setidaknya, aku hidup di dalamnya, bukan menghindari kemanusiaan itu sendiri.
Iya, aku sama denganmu. Meragukan apapun. Meragukan aku, otakku, manusia itu, dan kita.
Dan keraguan itulah yang membuatku ada di sini. Tetap tinggal.

Aku ada. Kamu ada. Manusia itu ada.

Standard; Good or Worsening?

Well~ 

Sebenarnya hal ini datang dari percakapanku dengan temen yang, oke, curhat mengenai masalah kerja kelompoknya.

Iya, aku tahu that it was completely my mistake.

I didn’t think carefully, I didn’t consider to do the profesional-way,

and i did that mistake. Which was already solved.

 

Dan dia akhirnya mulai menyinggung, 

“Apakah standarku yang terlalu tinggi ini pantas aku terapkan ke orang lain?”

 

Perbincangan itu terus berlanjut.

Buatku, setiap orang berhak memiliki Standar dan berkewajiban memenuhinya.

Pertanyaannya, apakah orang lain bisa disamakan standarnya denganmu?

 

Jelas, jawabannya NGGAK.

Every people is themselves.

Setiap orang *kembali lagi* berhak untuk punya ataupun tidak mempunyai standar tersebut.

 

Bagaimana ketika kedua standar tersebut “beradu” satu sama lain?

 

Buatku, jawabannya ada di KOMUNIKASI dan ACCEPTANCE

Komunikasi membuat masing-masing orang terbuka dengan standar yang masing-masing pegang.

Dan acceptance, membuat kita menerima ada standar lain yang sama-sama menginginkan kepatuhan.

 

Kemudian, solusi yang *sampai saat ini* bisa aku pikirkan adalah : Memilih.

You could choose, stay with your idealism. But accept the consequences that much people won’t go around your standard.

Or you could choose, accept the facts that much people won’t go around your standard.

 

Buatku, opsi kedua jauuhh lebih menyusahkan. “Menerima kenyataan” artinya kamu nggak akan shove standarmu ke orang lain. Kamu tidak berhak untuk ‘marah’ dan semacamnya. Kamu bisa ‘pergi’ dari standarmu, atau mencari cara, of course win-win solution, untuk memenuhi kebutuhan standar yang berbeda.

Dari dirimu sendiri, bukan dari orang lain.

Jangan berharap pada orang lain, kalau kamu memilih opsi ini.

 

Will you?